KESADARAN AKAN KESALAHAN
Semua berawal 16 tahun yang lalu ketika Andien Sheika Putri anak dari seorang pejabat kaya di Ibu kota , tersesat dalam sebuh hutan. Saat itu sedang diadakan acara perkemahan disekolahnya. Acara itu memang sudah menjadi rutinitas bagi SD faforit di Jakarta setiap akhir tahunnya. Dia anak pertama sekaligus anak satu-satunya dari keluarga Angga Wijaya dan Dina Wijaya. Setelah kejadian tersesatnya Andien disebuah hutan, orang tua Andien sangat memperhatikan putrinya , setiap waktu yang tersisa disela-sela pekerjaan mereka selalu mereka pergunakan untuk memanjakan putrinya itu. Sampai-sampai mereka memberi pengawsan yang ketat.
Tahun berganti tahun , seiring dengan Andien beranjak remaja. Didikan dari orang tuanya membuat ia menjadi menjadi anak yang manja dan bersifat konsumtif . Pak Angga , papanya selalu menuruti keinginannya. Akan tetapi segala hal yang diberikan oleh kedua orang tuanya lantas tak membuatya selalu menanuruti keinginan kedua orang tuanya. Terbukti ketika kedua orang tuanya meminta dia untuk memilih sekolah menengah pertama disalah satu sekolah faforit di Bandung, akan tetapi dengan mudah Andien menolak keinginan kedua orang tuanya itu.
Seketika Andien berubah menjadi remaja yang pembangkang, kabar buruk pun terjadi ketika mama Andien harus melaksanakan operasi pengangkatan rahim, yang berarti beliau tidak dapat memiliki keturunan lagi. Entah apa yang difikirkan Andien, mungkin ia sedih karena tidak dapat memiliki saudara untuk diajaknya berbagi, atau semua menjadi kebalikannya.
Ternyata semua memang tak pernah terduga sebelumnya. Andien tumbuh menjadi gadis yang angkuh dan sombong. Papa dan mamanya selalu mengelus dada dalam mendidik putri semata wayangnya itu. Mereka selalu berfikir apakah mereka salah mendidik Andien sehingga ia tumbuh menjadi anak yang susah diatur seperti itu. Papa dan mamanya pasrah menghadapi tingkah laku Andien. Sampai pada akhirnya mama Andien jatuh sakit, beliau terkena penyakit kanker hati. Hingga akhirnya nyawanya tak tertolong lagi. Pak Angga Wijaya sangat terpukul akan kepergian istrinya begitu pula Andien yang sangat merasa bersalah, karena menurutnya ia belum bisa menjadi apa yang diharapkan oleh almarhum mamanya. Ia terus larut dalam kesedihan.
Papa Andien memutuskan mengirim Andien ke pesantren. Walau beliau tahu Andien akan menolak keputusannya itu. Tapi itulah jalan terbaik agar Andien dapat berubah menjadi lebih baik. Setelah 100 hari meninggalnya Dina Wijaya, Andien pun dikirim ke salah satu pesantren di Bandung oleh papanya. Andien benar-benar marah luar biasa. Dia tak habis fikir kenapa papanya melakukan ini semua, mengingat selama ini papanya tak pernah memaksakan kehendak kepadanya. Saat ini pun dia tidak bisa memberontak karena ia juga masih terpukul akan kepergian mamanya. Sungguh sebuah penderitaan yang dia rasakan selama dia menjadi santri. Bagaimana tidak dia tak pernah niat sungguh-sungguh dalam menjalankan kegiatan dipesantren . dia tidak pernah lepas dari sifatnya yang angkuh acuh tak acuh itu, hal itu pula yang membuat dia tidak punya teman sama sekali , yang berlainan ketika dia di Jakarta. Ini sungguh belum pernah dilakukan oleh Andien. Semenjak ia tinggal di pesantren dia selalu berfikir macam-macam. Misalnya dia selalu bertanya-tanya apa yang membuat gadis remaja seumurannya bisa betah tinggal ditempat yang menurunya seperti neraka ini. Ia bertanya-tanya kenapa papanya mengirimkan dia kepesantren. Apa papa tak peduli karena mamanya sudah meninggal, dia selalu berfikir demikian. Fikiran-fikiran itu selalu menjadi bayang-bayang Andien.
Saat jam istrahatnya dipesantren , Andien sendiri merenung di taman pesantren. Ia didatangi seorang wanita yang cantik nan muslim, ia adalah ustadzah baru yang sudah lama meuntut ilmu diMesir, Qonitah namanya. Entah bagaimana ia tau semua permasalahan andien. Beliau mengucap salam kepada Andien, akan tetapi seakan tidak tau Andien mengacuhkan ustdzah Qonitah.
Bulan berganti bulan, Andien sudah terbiasa dengan kehidupannya dipesantren. Ustadzah Qonitah perlahan membantu merubah prilaku Andien, karena ternyata dia dimintai pertolongan oleh ayah Andien. Sedikit demi sedikit perubahan terjadi pada Andien. Mulai dari sifatnya yang acuh tak acuh sudah dapat ia hilangkan. Ia sadar kenapa papanya mengirimkan ia ke pesantren, dia menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukannya telah membuat orang lain kecewa dan resah. Dan dengan tinggal dipesantren dia mengerti akan pentingnya bersyukur dalam menerima semua. Akan pentignya berakhlak dan menghargai orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar